Berdasarkan hasil rekap analisis monitoring dan evaluasi kepuasan mahasiswa, diperoleh nilai rata-rata keseluruhan sebesar 3,56. Jika mengacu pada skala penilaian yang digunakan, nilai tersebut berada pada rentang 3,26–4,00, sehingga tingkat kepuasan mahasiswa secara umum termasuk dalam kategori Sangat Baik.

Secara lebih rinci, indikator dengan nilai tertinggi adalah Empathy (empati) dengan rata-rata 3,8. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa menilai layanan yang diberikan telah memperhatikan kebutuhan, kepentingan, serta kondisi mahasiswa dengan sangat baik. Indikator Reliability (keandalan) memperoleh nilai 3,7, yang mengindikasikan bahwa layanan dinilai cukup konsisten, dapat dipercaya, dan mampu memenuhi harapan mahasiswa.
Selanjutnya, indikator Responsiveness (daya tanggap) dan Assurance (kepastian) masing-masing memperoleh nilai 3,5. Capaian ini menunjukkan bahwa aspek kecepatan merespons kebutuhan mahasiswa serta kemampuan memberikan kepastian layanan sudah berada pada kategori Sangat Baik, meskipun masih memiliki ruang untuk ditingkatkan agar lebih optimal.
Adapun indikator dengan nilai terendah adalah Tangible (bukti fisik/nyata) dengan rata-rata 3,3. Meskipun tetap masuk dalam kategori Sangat Baik, nilai ini menunjukkan bahwa aspek sarana, prasarana, fasilitas pendukung, atau tampilan fisik layanan masih menjadi area yang paling perlu mendapatkan perhatian dibandingkan indikator lainnya.
Dengan demikian, hasil monev menunjukkan bahwa kepuasan mahasiswa secara keseluruhan berada pada kategori Sangat Baik. Namun, peningkatan tetap perlu diarahkan terutama pada aspek Tangible, tanpa mengabaikan penguatan daya tanggap dan kepastian layanan, agar kualitas pelayanan kepada mahasiswa dapat terus ditingkatkan secara berkelanjutan.

Berdasar data di atas, lebih 90 persen dari 119 lulusan langsung mencari kerja dan mendapatkan pekerjaan. Sisanya tidak mencari kerja dan sedang tidak bekerja. Adapun 91,1 persen data di atas, jika diperinci berasal dari sejumlah lulusan yang terlacak dan lulus pada tahun 2020, 2021, dan 2022.

Grafik di atas memperlihatkan bahwa sebagian besar lulusan PGSD yang tidak memiliki dan mencari kerja, lebih banyak disebabkan karena usaha dan sebagian melanjutkan kuliah. Artinya, alasan tidak bekerja karena memang memilih untuk tidak bekerja. Data demikian yang menunjukkan bahwa hanya berkisar 2,2 persen, lulusan PGSD memilih bekerja namun gagal. Jadi tingkat kegagalan memilih dan mencari pekerjaan, dari 90 responden hanya 2,2 persen yang gagal.

Survey pengguna Berdasarkan data di atas dapat dikonklusikan bahwa ada jenis 9 jenis indikator yang dinilai. Seluruhnya jika dibagi menjadi 4 tingkat penilaian, ditemukan bahwa seluruh kompetensi yang dimiliki nilainya variatif dan paling banyak dinilai sangat baik. Berdasarkan penjelasan data di atas, digambarkan bahwa seluruh pengguna mayoritas merasa puas pada kinerja lulusan PGSD Universitas Bakti Indonesia.
Terbukti, mayoritas mereka menilai bahwa tujuh indikator kinerja lulusan PGSD,“sangat baik”. Adapun penilaian tertinggi dari 9 variabel yang dinilai sangat baik adalah kompetensi atau kinerja kemampuan lulusan dalam bekerja dengan tim. Tidak tanggung-tanggung, dari 100 responden, 92 persen menjawab
sangat baik. Artinya, skill utama yang menjadi luaran darma pendidikan PGSD adalah
keahlian dalam bekerja dengan tim.